Lepas dari menyelesaikan pekerjaan di kebumen sore itu, saya menyempatkan meluncur ke tempat mbah lurah di lereng merapi. Tepat lepas isya akupun sampai di halaman rumah mbah lurah. Pertemuan dengan mbah lurah menjelang akhir tahun kali ini aku ingin bicara tentang politik di Indonesia yang akhir akhir ini terus menghangat. Obrolan di pendopo rumah mbah lurah ditemani kopi panas dan singkong rebus ternyata mengasyikan.

Tahun baru 2010 akan datang mbah, apa yang menarik ini?, tanyaku membuka pembicaraan. Menanti jawaban mbah lurah yang asyik mengisap rokoknya, akupun ikut menyalakan sebatang rokok ardath merah kesukaanku….

Beberapa bulan terakhir, bangsa ini sangat asyik dengan keributan seputar politik kekuasaan, membongkar bongkar perkara untuk menjatuhkan pemerintah yang telah dipilih secara langsung oleh masyarakat, demikian mbah lurah membuka pembicaraan.

Dari kasus Kriminaliasi KPK yang berbuah putusan tanpa peradilan dari kasus bibit dan candra, Kasus penyelamatan Bank Century yang berbuah pansus hak angket DPR RI, Kasus Prita yang berbuah Bebas dengan uang receh, Nyanyian buku gurita cikeas yang bikin heboh dan terakhir ada mobil mewah bikin resah jatah para menteri…. semua sekedar menarik untuk mbah jadikan hiburan akhir tahun… he he he, demikian ungkap mbah lurah dengan wajah tua tapi tetap bersahaja.

Kok Cuma jadi hiburan mbah ?, tanyaku. Jelas cukup buat hiburan saja, lah wong semua itu nggak ada kaitannya dengan membuat masyarakat ini sejahtera demikian kata mbah lurah dengan entengnya.

Kita ini semestinya mengharapkan pemimpin pemimpin itu berpikir tentang bagaimana mensejahterakan masyarakatnya, bukan jadi badut badut yang melucu di media massa. Biarlah yang menjadi hiburan masyarakat itu opera van java si parto atau bukan empat matanya si tukul saja.

Mulai dengan nada agak tinggi mbah lurah bercerita.

Bagaimana kita akan maju kalo tiap hari disuguhi ribut ribut para petinggi yang tidak bermutu seperti itu, Masyarakat ini sudah capek bekerja untuk kesejahteraan keluarganya, boro boro bicara program untuk masyarakat, pemerintah menanggapi tukang onar saja nggak terasa sudah mau 100 hari kerja.

Coba kamu lihat, kita ini bangsa agraris yang katanya tanahnya subur, tapi padi, jagung, kedelai, gula, daging bahkan garampun masih impor, apa ra edan….., Kita punya anak anak yang cerdas, menang olympiade fisika, matematika, robot dan yang lain lainnya, tapi masih saja ribut soal Ujian Akhir Nasional dan dana BOS yang tidak berjalan.

Semua itu bukan cuma salah presiden saja, tapi salah semua kita yang tidak fokus pada memakmurkan masyarakat, tapi hanya ribut soal politik kekuasaan, berhenti mbah lurah bicara mengangkat cangkir kopi dan menikmatinya….

Tapi dalam berbangsa dan bernegara kita kan memang punya hak berpolitik mbah, kenapa mesti dipermasalahkan atraksi politik yang dimainkan oleh para pemimpin kita ?, tanyaku memancing kembali semangat mbah lurah yang mulai reda karena tegukan kopinya.

Boleh bikin atraksi politik, itu hak setiap warga negara sebagai manusia politik. Tapi dalam berpolitik kita mesti memegang semangat cita cita pendiri bangsa yaitu (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang artinya jangan kita berpolitik tapi pada akhirnya menjadikan bangsa ini terpecah belah, masyarakat tidak sejahtera, kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi bodoh.

Ada pembelajaran yang salah.

Kamu ingat, dengan DOROTHY LAW NOLTE yang mengatakan Jika anak dibesarkan dengan celaan, permusuhan dan cemoohan dia akan belajar memaki, berkelahi dan rendah diri?, tanya mbah lurah padaku. Anak anak bangsa ini semestinya tidak dibesarkan dengan tontonan saling cela, permusuhan dan cemoohan, karena mereka hanya akan pandai memaki, berkelahi dan yang dicemooh akan menjadi rendah diri.

Kita sebagai bangsa sudah selayaknya menghentikan semua celaan, permusuhan dan cemoohan pada saudara sendiri. aku sekarang malah berpikir, jangan jangan kita memang sedang diadu domba tegas mbah lurah.

Kita sudah merdeka mbah, tidak ada penjajah belanda yang mengadu domba kita, sahutku sambil tertawa….

hey … jangan tertawa kamu.. bentak mbah lurah dengan muka serius. Penjajah kita sekarang adalah bangsa sendiri, itu seperti yang pernah bung karno sampaikan. Kamu tahu ada jutaan hektar tanah di papua hanya dimiliki beberapa gelintir orang? Kamu tahu 11 propinsi di wilayah timur Indonesia mulai menuntut perhatian hak politik dan ekonominya? Kamu ingat kasus Bank Bali tahun 1997 dulu melenakan kita dan membuahkan kemerdekaan timor timur?… ini semua bisajadi sebuah konspirasi mengacaukan Republik dan menjadikan Indonesia raya pecah seperti uni soviet.

UU otonomi khusus papua yang telah dibuat sejak 2001, sampai hari ini belum benar benar dilaksanakan, sehingga beberapa elemen masyarakat papua beberapa waktu lalu mengajukan judisial revieu ke MK. NGO dari negara negara asing sudah mulai masuk di wilayah papua untuk melakukan penguatan masyarakat agar mendukung referendum, apa masih bisa membuat kamu tertawa?.. kata mbah lurah.

Disini, sebulan lalu ada kelompok masyarakat papua yang masih cinta NKRI bercerita itu semua, demikian kata mbah lurah dengan nada datar dan lirih.

Apa yang bisa kita lakukan mbah..? tanyanku sesaat setelah kami semua terdiam.

Saatnya belajar dari kearifan kepala desa

Aku masih ingat dulu kamu yang bukan kepala desa, bersemangat memberikan pencerahan pada kepala desa untuk menentang Peraturan Pemerintah no 72 tahun 2005 tentang larangan kepala desa menjadi pengurus partai politik. Sejarah telah mencatat pergerakan kepala desa yang dimulai feb 2006 dan berujung pengajuan yudicaial review ke Mahkamah Agung pada 3 april 2006.

Tapi itu… kataku terpotong dengan ucapan mbah lurah, aku tahu.. kamu diam dulu. Kamu nggak usah menyahut, aku paham maksudmu waktu itu, katanya.

Kamu pengin memberikan pembelajaran dan penyadaran pada para pejabat publik untuk juga tidak menjadi pengurus partai politik khan? tanya mbah lurah.iya mbah.. kataku.

Kamu sudah memulainya, itu jawaban pertanyaan apa yang bisa kita laukan. Sebenarnya bila pembelajaran dan penyadaranmu berhasil, maka setiap mereka yang duduk di legislatif harus berani melepaskan jabatan partai karena mereka adalah wakil rakyat bukan lagi wakil partai, sama juga dengan kepala daerah, presiden, wakil presiden dan menteri menteri, mereka sudah menjadi pejabat negara, harusnya melepaskan diri dari jabatan partai.

Kalo para kepala desa bisa menerima untuk tidak menjadi pengurus partai mengapa mereka tidak, itu khan yang menjadi kegelisahanmu sekarang?, tanya mbah lurah. Aku juga berharap apa yang pernah kamu bayangkan bisa dipahami bersama oleh para pejabat publik dan pejabat negara, sehingga apa yang dulu pernah disampaikan Bung Karno saat menjadi Presiden RI bahwa saya sekarang milik bangsa Indonesia bukan hanya milik PNI bisa menjadi semangat bangkitnya kesadaran berbangsa dan bernegara…. lajut mbah lurah

Dengan tidak ada rangkap jabatan dalam partai politik, maka pejabat negara dan pejabat publik lainnya mampu menciptakan kerja efektif baik pemerintahan maupun legislatif. Pemerintahan dan legislatf menjadi lebih responsif, sehingga mampu menerjemahkan keinginan masyarakat menjadi kebijakan publik yang berpihak pada masyarakat.

Jadi catatan dan harapan akhir tahunnya apa ini mbah?, tanyaku. Catatan 2009 ya… menariknya pertunjukkan politik di Indonesia sebagai sebuah media pembelajaran dan hiburan sepanjang tahun, dan harapan simbah mulai 2010 para pemimpin bangsa sudah mulai menyadari bahwa hiburan politik yang mereka mainkan sudah mulai menjemukan dan saatnya mereka menunjukkan aksi kerja untuk bangsa, jangan ada rangkap jabatan partai dan pejabat negara. Masyarakat harus dicerdaskan, disejahterakan dan waspada gangguan gangguan penjajah yang ingin kita terpecah belah bangsa… jangan ada yang lepas dari NKRI…… perhatikan papua dan propinsi di Wilayah Timur Indonesia

wah.. sampeyan pantas jadi tokoh nasional mbah… bukan tokoh desa lagi pujiku pada mbah lurah..

Semar adanya tetap di desa bukan di kota…. he he he he…., kalo di kota jadinya semar mesem dan semar mendem…… sahut mbah lurah dengan tertawa renyah…..

Tak terasa waktu sudah lewat tengah malam, akupun pamit pulang ke jakarta dimulai dengan menelusuri jalan desa lereng merapi……