Koalisi partai yang dibangun oleh Presiden SBY dengan partai partai guna mendukung kepemimpinan pemerintahannya ibarat sebuah perkawinan dengan bermodal komitmen membangun kesejateraan bersama bagi keluarga, yaitu anggota keluarga partai koalisi.

Ada beberapa keimanan yang tidak mengijinkan perceraian, hanya Tuhan yang berhak menceraikan. Ada pula beberapa keimanan memberikan pintu perceraian walaupun itu merupakan tindakan yang dibenci Tuhannya.

Dalam Islam ada beberapa alasan sah yang membolehkan seseorang bercerai yatu : 1) Penyiksaan secara fisik, mental ataupun emosional; 2) Bila perkawinan gagal memenuhi sasaran dan tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya; 3) Pengkhianatan dalam rumah tangga;  dan  4) Ketika suami yang semestinya bertindak sebagai pencari nafkah dan menjadi kepala keluarga tapi gagal dalam mengemban tanggung jawab tersebut dan sang istri kemudian memutuskan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi atas kelalaian suaminya yang tidak bertanggungjawab terhadap keluarga.

Dalam hal koalisi bila kita identikan dengan perkawinan, maka langkah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam menolak ”kesepakatan” dalam RAPBN 2012 dapat dikategorikan sebagai bentuk pengkhianatan dalam rumah tanga. Dan oleh karenanya SBY sebagai ”suami” yang berpoligami dengan partai partai sudah layak untuk melakukan talaq cerai untuk ”istri” yang berkhianat.

Selayaknya PKS sebagai seorang ”istri” yang apabila merasa SBY sebagai ”suami” nya telah danggap gagal dalam memenuhi sasaran dan tujuan yang telah dirancang sebelumnya , maka PKS sbagai ”istri” pun memiliki hak untuk meminta cerai.

Issu telah begitu berkembang pecah ”perkawinan” SBY dengan PKS, pada saatnya kita akan menunggu alasan perceraian mereka. SBY yang telah sasaran sehingga membuat PKS minta ”cerai” atau PKS yang dianggap khianat sehingga SBY menceraikannya.

Setidaknya apabila terjadi perceraian itu, maka kita akan melihat siapakah permaisuri sebenarnya SBY, akankah Demokrat atau Golkar yang demikian seksi dan cerdas dalam mengolah peristiwa dan ”menyelamatkan” sang ”suami” yaitu Presiden SBY.

Dalam pergolakan paripurna APBNP 2012 terlihat jelas bahwa Demokrat telah dikalahkan Golkar dalam hal keputusan final yang dambil.

Saatnya kita melihat kepemimpinan kepala rumah tangga Koalisi Pemerintah, akankah tegas bertindak atau kompromis dan pemaaf….?

Pin It on Pinterest

Share This