SEMARANG– Sejumlah tokoh yakni Ali Mufiz (mantan Gubernur Jateng), Bibit Waluyo (Gubernur Jateng) , Fajar SAKA (Ketua KPU Jateng), Surjokotjo, Riyanta, Sapta Mahendra, Rustriningsih (Wagub Jateng), Kapendi, Djoko Besariman, Arif Mudatsir Mandan (Ketua DPW PPP) hadir, dalam seminar ‘Menakar Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jateng’ di Semarang, kemarin.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menegaskan akan kembali mencalonkan sebagai gubernur untuk periode 2013-2018.Namun soal partai politik (parpol) yang akan dijadikan kendaraannya, Bibit belum berani blak-blakan. ”Nggak perlu lama-lama. Aku maju. Titik,” ujar Bibit menjawab pertanyaan Sriyanto Saputro,moderator seminar Kelompok Diskusi Wartawan (KDW) Provinsi Jateng,di Santika Premiere Hotel, Semarang, kemarin.

Mantan Pangdam IV/Diponegoro itu dalam Pilgub 2008 lalu diusung oleh PDIP.Namun dalam penjaringan calon gubernur dan wakil gubernur di DPD PDIP Jateng,Bibit Waluyo juga tidak mengikutinya.Bahkan, dalam acara pemantapan tiga pilar DPD PDIP di GOR Jatidiri, Senin (1/10) lalu, dirinya tidak hadir kendati Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dan fungsionaris DPP lainnya turut hadir. Dalam acara itu, Bibit beralasan, ketidakhadirannya dalam acara PDIP karena merasa tidak mendapat undangan.

Dirinya sudah mengecek langsung ke protokolerdanmemangtidak ada surat resmi dari partai berlambang moncong putih itu. Meski belum jelas parpol yang akan digaetnya, namun Bibit menyatakan dirinya bukan seorang politisi yang mudah berpindah dari satu partai ke partai yang lain. Pengamat Politik Universitas Diponegoro Muhammad Yuliyanto menilai, resistensi yang menguat terhadap incumbentdari sejumlah partai besar, seperti PDIP, maupun Golkar bisa dimanfaatkan parpol papan tengah seperti PKS, PAN, PKB, Gerindra, maupun PPP untuk membangun koalisi baru mengusung incumbent.

”Secara psikopolitik, hari ini incumbent gubernur lebih nyaman dengan partai menengah karena relatif minim konflik dan tidak terlalu resisten,” katanya. Dari survei yang dilakukannya terhadap 3.000 responden, elektabilitas calon incumbent Bibit Waluyo masih di bawah 22%, di bawah Jokowi dan di atas Rustriningsih. Sedangkan polularitas Bibit 65%.Seharusnya, dengan melihat popularitas yang tinggi di masyarakat, tingkat memilih incumbent harusnya sudah 35-40%.

”Walau masih punya kepercayaan,tapi jangan terlalu jual mahal.Soal perangai,mohon untuk mendo (dikurangi) sitik,”ujarnya. Elektabilitas incumbent yang buruk, lanjut Yulianto, signifikan dengan respons negatif parpol yang tidak berniat mencalonkan kembali incumbent. Mantan Gubernur Jateng Ali Mufiz mengaku belum puas dengan 20 calon yang mendaftar ke PDIP.”Masak yang muncul hanya itu-itu saja,”ujar dia.

Soal calon yang bakal diusung, PKB belum memutuskan. Ketua DPW PKB Jateng KH Yusuf Chudlori menuturkan, partainya masih wait and see.Pihaknya masih melihat beberapa calon yang muncul dan sedang aktif melalukan komunikasi politik dengan partai lain. Ketua DPW PKS Jateng Abdul Fikri Faqih menuturkan, partainya juga masih berkomunikasi dengan partai lain. Pihaknya bertekad tidak akan menawarkan kepada para calon.

PKS tidak hanya akan mendukung dan mengusung, tapi juga rasional dan realistis.”Kader atau tidak, lihat realitas. Gubernur adalah jabatan politik,” ujarnya. Soal calon,kapabilitas, pendidikan formal baik dan mampu menjalankan pemerintahan. Integritas tentu harus baik. ”Bahasa PKS soleh,” ujarnya. Sementara Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) I Golkar Jawa Tengah,Wisnu Suhardono mengatakan peluang partai yang dipimpinnya untuk mengusung Bibit Waluyo sangat kecil. Golkar Jateng lebih memprioritaskan nama lain, untuk diusung dalam pesta demokrasi yang akan digelar 26 Mei 2013 mendatang.

Saat berada di Kantor DPD II Golkar Kudus siang kemarin, Wisnu tanpa sungkan menuturkan partainya memang tidak ada hasrat mengusung Bibit yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur Jateng itu. Wisnu sendiri tidak merinci secara detail alasan partainya enggan mengusung incumbent saat Pilgub. ”Meski begitu segala kemungkinan tetap masih terbuka lebar. Kita lihat saja nanti,”kata Wisnu.

Berdasar aturan, parpol atau gabungan parpol yang ingin mengusung pasangan calon (paslon) sendiri saat gawe Pilgub Jateng harus memiliki sedikitnya 15% suara. Golkar Jateng sendiri saat ini hanya memiliki 11% suara. Praktis, jika berhasrat mengusung paslon sendiri, mau tak mau Golkar Jateng harus berkoalisi dengan parpol lain. (sindo)