BKC atau Barang kena cukai adalah barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Barang kena cukai yang antara lain  hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan digunakan atau tidak bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.

Penjelasan umum angka 4 huruf (c) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995, dijelaskan selain bertujuan membina dan mengatur, juga memperhatikan prinsip: pembatasan dalam rangka perlindungan masyarakat di bidang kesehatan, ketertiban, dan keamanan.

Cukai Tembakau

Cukai adalah pungutan oleh negara secara tidak langsung kepada konsumen yang menikmati/menggunakan obyek cukai. Obyek cukai pada saat ini adalah cukai hasil tembakau(rokok, cerutu dsb), Etil Alkohol, dan Minuman mengandung etil alkohol / Minuman keras.

Cukai tembakau adalah sumber penting pendapatan Pemerintah, menghasilkan Rp55,9 triliun bagi Pemerintah pada tahun 2009

Secara sederhana dapat dipahami bahwa harga sebungkus rokok yang dibeli oleh konsumen sudah mencakup besaran cukai didalamnya. Pabrik rokok telah menalangi konsumen dalam membayar cukai kepada pemerintah pada saat membeli pita cukai yang terdapat pada kemasan rokok tersebut. Untuk mengembalikan besaran cukai yang sudah dibayar oleh pabrik maka pabrik rokok menambahkan besaran cukai tersebut sebagai salah satu komponen dari harga jual rokok tersebut.

Undang Undang Tembakau

Dengan Undang Undang kesehatan no 36 tahun 2009  Pasal 113 Ayat 2 berbunyi, “Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya”. Oleh beberapa pihak ayat tersebut lambat laun akan mempengaruhi peredaran tambakau yang sudah berbentuk rokok, sehingga mempengaruhi daya jual tembakau dari petani,

Disisi lain dalam pasal 114, peringatan atau iklan dapat berbentuk tulisan atau gambar dan dalam pasal 199 disebutkan  bahwa peringatan atau iklan yang tidak mencantumkan gambar akan dikenai sanksi. Ini berarti produk hasil tembakau akan selalu ditekan untuk produksi dan pemasarannya yang pada akhirnya daya serap industri atas produk petani tembakau dan cengkeh akan pula mendapatkan dampak berupa day jual yang rendah.

Cukai Tembakau Untuk Kesehatan

Berdasarkan data dari Bank Dunia tahun 2010, menurut Menkes anggaran yang diperlukan untuk program layanan kesehatan untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali, yang diberi nama universal coverage mencapai Rp 50 triliun per tahun. Biaya itu berasal dari kebutuhan setiap penduduk diasumsikan membutuhkan biaya Rp 13 ribu sampai dengan 15 ribu per bulannya. “Anggarannya memang tinggi, setiap jiwa Rp 13 ribu – Rp 15 ribu, jadi total untuk seluruh penduduk mencapai Rp 50 triliun,”

Apabila melihat pada target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60,7 triliun, terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58,1 triliun dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2,7 triliun, makasangat cukup cukai tembakau digunakan untuk memberikan program layanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Haruskah kita “membunuh tanaman tembakau demi kesehatan masyarakat” Ayo selamatkan petani tembakau dan beri jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia secara gratis..

Pin It on Pinterest

Share This