Indonesia tersentak dan kemudian demam mobil nasional produk sekolah menengah kejuruan (SMK) karena Walikota Solo Jokowi memasang plat nomor mobil dinas AD 1 A dan AD 2 A di mobil Esemka. Solo dan Jokowi kemudian menjadi sorotan dalam apresisasi terhadap karya anak anak SMK. Mobil dengan nama mobil Kiat Esemka demikian memukau, bahkan tidak kurang banyak politisi, tokoh masyarakat, artis telah pula melakukan pemesanan.

Alih alih belum mendapat uji kelayakan jalan, Mobil Kiat Esemka roads show  dari Solo ke Jakarta berubah nama tanpa Kiat dan berlanjut dengan “perseteruan” antara Sukiyat dan Hadi Rudyatmo Wakil Walikota Solo.

Sukiyat mengaku dia berperan paling besar dalam proses perakitan mobil Esemka. “Kalau tidak ada saya, enggak bakal ada mobil Esemka,” katanya, Selasa, 28 Februari 2012. Dia mengklaim peran hanya 5-10 persen. “Sisanya saya yang berkontribusi,” ujarnya. Bahkan, Sukiyat memperkirakan mobil Esemka bakal tidak laku setelah nama Kiat dihilangkan. Sebab, masyarakat sudah tahu kualitas bengkelnya sehingga yang jadi patokan adalah nama Kiat Motor. “Kiat Motor sudah terbukti kualitasnya,” katanya.

Meskipun kecewa, Sukiyat akan tetap bersedia membantu siswa SMK dari berbagai daerah untuk merakit mobil di bengkelnya. “Saya tetap bersedia mentransfer ilmu saya kepada anak-anak SMK. Saya ingin mereka maju,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Surakarta Hadi Rudyatmo membantah jika dikatakan sosok Sukiyat atau nama Kiat yang membuat mobil Esemka dikenal seperti sekarang, Esemka dikenal setelah dia dan Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo. “Yang bikin Esemka dikenal masyarakat adalah AD 1 dan AD 2,” katanya.

Dia menyesalkan sikap Sukiyat yang mengatakan Esemka tidak bakal dikenal tanpa kontribusi dirinya. Sebab, sejatinya mobil Esemka sudah ada sejak tiga tahun lalu dan tidak pernah dilirik. Baru setelah dia dan Jokowi membuat terobosan dengan dijadikan mobil dinas, Esemka menjadi perhatian masyarakat. “Logikanya terbalik. Justru Sukiyat terkenal karena Esemka. Bukan Esemka terkenal karena Sukiyat,” katanya.

Selain itu, kata Rudy, siswa SMK yang dilatih di bengkel Sukiyat tidaklah gratis. Seluruh siswa yang menjalani pelatihan di Karoseri bengkel milik Sukiyat harus mengeluarkan biaya sebesar Rp4,5 juta.

“Bohong kalau siswa SMK dilatih gratis. Para siswa ini membayar agar bisa ikut pelatihan membengkel di sana sebesar Rp4,5 juta,” jelas Rudy.

Dari ”perseteruan tersebut, maka yang menjadi catatn penting adalah bahwa pengembang mobil ESEMKA yang orang mungkin berpikir nama tersebut kependekan dari Sekolah Menengah Kejuruan adalah salah besar. ESEMKA adalah kependekan  dari nama PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK), jadi yang sebenarnya terjadi adalah mereka semua telah melakukan langkah cerdik kalo tidak boleh dikatakan licik kepada publik. Dengan nama ESEMKA maka mereka PT Solo Manufaktur Kreasi telah  ”mengambil kesan” bahwa mobil mereka adalah produks anak anak sekolah menengah kejuruan.

Semoga kita cukup cermat untuk mencermati, dan semoga anak anak SMK tidak hanya menjadi komuditas promosi semata. Akan lebih baik mengarahkan pada seluruh Industri strategis memberikan ruang magang pada semua murid murid SMK…