Masih jelas dalam ingatan kita gemuruh demonstrasi anti kenaikan BBM dan dagelan sidang APBNP di Senayan terkait rencana pengurangan subsidi BBM. Pengurangan subsidi BBM dengan program kompensasi berupa BLSM (Bantuan Langsung Semesta Masyarakat) 2012, pembangunan  infrastruktur desa, perluasan konpensasi angkutan umum, peningkaran unit cost untuk program keluarga harapan, dan beasiswa miskin ternyata tidak bisa diterima oleh sebagian masyarakat dan menjadi keputusan.

Pengurangan subsidi BBM sepertinya gagal karena bau politik yang sangat kuat yaitu BLSM yang dikuatirkan menjadi ajang pencitraan ”baik hati” nya pemerintah, sehingga partai oposisi sampai sampai mengeluarkan perintah resmi dari partai untuk mealkukan penolakan. Kalo toh masalahnya adalah politisasi BLSM, kenapa tidak cukup ditolak saja BLSM, mungkin begitu bahasa sederhanya. Jangan kemudian ditolak pengurangan subsidi BBM yang berakibat pada tertundanganya program kerakyatan yang lainnya karena tidak adanya dana negara yang tersedot oleh subsidi BBM.

Ketika suara kemandirian didengung dengungkan, dari mana kemandirian kalo subsidi yang diberikan lebih banyak dimanfaatkan oleh orang kaya, setidaknya mereka yang memiliki kendaraan bermotor dapat diasumsikan kaya atau memaksakan disi terlihat kaya.

Dalam setahun, anggaran APBN untuk pembangunan infrastruktur hanya Rp. 40Trilyun. Sedangkan subsidi BBM mencapai Rp. 130Trilyun dan Subsidi Listrik mencapai Rp. 40 Trilyun.

Benarkah rakyat lebih memilih subsidi BBM, sedang 80% subsidi dinikmati oleh mereka yang memiliki kendaraan bermotor ? Apakah rakyat tidak lebih memilih pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, bis bersubsidi, kapal bersubsidi, pembangunan sekolah, RS gratis, pendidikan gratis hingga Perguruan Tinggi, Bendungan irigasi, listrik murah dan lain-lain……….

Mobil Nasional

Dalam beberapa bulan lalu demikian dielu-elukan Joko Widodo (Jokowi) yang memberikan apresisasi pada mobil esemka, yang kemudian bermunculan berita seputar kreasi anak bangsa seputar produksi mobil yang layak disebut mobil nasional.

Dalam sejarah mobil nasional ada Maleo (1993), Beta 97 MPV (1994), Timor (1990), Bimantara (1990), MR 90 dan Mazda Van tren (1994), Kalla Motor, Texmaco Macan (1997), Gang Car (2003) Marlip mobil listrik, Kancil, GEA, Tawon, FIN Komodo, Wakaba, Arina, Nuri, Boneo, dan Esemka.

Dari semua gagasan dan pengembangan mobil nasional bila dicermati tidak ada yang berorientasi pada mobil niaga dan transportasi pedesaan.

Dari pengurangan subsidi BBM dan gagasan Mobil Nasional, sangat jelas terlihat bahwa tidak tertanam dasar pemikiran untuk menciptakan sebuah kemandirian. BBM yang harus disubsidi sementara pemakaiannya lebih diperuntukkan mobil dan kendaan bermotor  pribadi. Mobil nasional yang berorirntasi pada mobil penumpang bukan mobil niaga atau mobil bekerja. Inikah protret bangsa kita ….. bangsa yang konsumtif murahan……?