OTOMOTIFNET – Sudah enggak zamannya lagi mikirin bahan bakar minyak. Lihat saja laporan utama OTOMOTIF pekan lalu yang mendukung pencabutan subsidi BBM. Harus diingat kalau BBM model tersebut menggunakan bahan tak tergantikan. Artinya, kalau cadangan minyak dunia habis, ya tinggal tunggu nasib saja sampai ada minyak alternatif baru lagi.

Berdasar isu kritis seperti ini mendasari Suryokoco Adiprawiro, dari Komite Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) untuk lebih mengenalkan teknologi bahan bakar etanol berbahan dasar singkong.

“Singkong merupakan tanaman yang mudah didapat dan minim perawatan,” papar Suryo menjelaskan alasan pemilihan singkong. Pun tak perlu daerah tertentu untuk menanamnya.

Pembuktian singkong bisa bekerja sempurna, KNMI mengadakan perjalanan dari Jakarta hingga Surabaya, menggunakan 6 unit mobil berbeda jenis dengan komposisi etanol yang juga berbeda. Proyek pertama memakai Toyota Kijang Super lansiran 1995 dengan kandungan etanol murni 100% sebagai bahan bakar, lalu Toyota Avanza dengan kandungan etanol 75%, dan 4 unit sisanya memakai komposisi etanol 50%.

Tim KNMI berangkat membuktikan Etanol 75 persen

“Hanya kalau ingin memakai etanol mur­ni 100% harus memakai converter tambahan yang berfungsi untuk men­kontraksi etanol jadi gas,” lanjut pria tinggi besar ini. Jadi, yang dimasukkan ke dalam karburator ialah etanol yang telah diubah menjadi gas. Caranya, selang bahan bakar dari saluran tangki bensin di by-pass dulu melewati converter.

Kemudian masuk ke dalam karburator. Total etanol yang dibutuhkan selama perjalan sekitar 560 liter dibawa langsung dari Jakarta menggunakan jeriken.

Prinsip kerjanya dengan cara menyaring etanol sekaligus dipanaskan hingga akhirnya etanol berubah jadi gas. Mirip-mirip BBG (Bahan Bakar Gas) yang banyak dipakai bis umum itu loh. Demi bisa dipakai massal, harga converter yang terpasang dipatok maksimal Rp 120 ribu per buah.

Cukup murah mengingat kinerjanya yang rumit. “Sekarang memang masih dalam tahap penyempurnaan riset, tapi sudah lancar dipakai perjalanan hingga balik Jakarta lagi,” lanjut Suryo.

Beda kalau ingin memakai komposisi 1 banding 1 alias campuran 50%, etanol bisa langsung dimasukan ke tangki bensin bawaan aslinya. Sayangnya, karena berasal dari bahan nabati, pemakaian etanol sedikit terkendala karena terkena cukai bahan makanan dan minuman. Tapi masih bisa diatasi apabila etanol yang dijual nantinya dirusak alias diberi zat pewarna khusus hingga tidak bisa dikonsumsi lagi.

Rencananya, harga jual etanol akan berkisar di kisaran harga Rp 5.500 per liter. Menurut kabar beredar, kalau benar harga Premium akan menjadi Rp 7 ribu per liter beberapa bulan ke depan, etanol memberikan solusi terbaik mengingat bahan bakunya mudah dicari.

“Ketika mampir di Semarang, Gubernur Jateng Bibit Waluyo sangat berminat untuk mengembangkan potensi etanol di Jawa Tengah. Bahkan beliau sempat mencoba bahan bakar etanol di pelataran parkir kantor Gubernur,” sambung pria asli Semarang ini.

Sebagai pembanding, untuk menghasilkan etanol skala industri agar bisa dijual bebas sebanyak 1.000 liter per hari dibutuhkan lahan singkong sebesar 12 hektar. Kalau kebun hasil panen bisa menghasilkan 50 kg singkong per pohon, maka biaya per kebun menjadi Rp 1 miliar.

Masukan angka tersebut ke skala industri dengan area lahan kosong yang banyak tersebar di sepanjang Jawa hingga Sumatera, bayangkan saja mudahnya mencari bahan bakar terbarukan yang harganya lebih murah dari SPBU.

Tak hanya hemat biaya, usah risau masalah ketersediaan bahan baku. Siap berevolusi? ( Rio / otomotif / 09/06/2010 )