Satu waktu di sebuah meja makan keluarga kecil yang sederhana, ritual do’a dimulai dengan sang ayah membaca bismillah dilanjutkan sang anak membaca do’a sebelum makan. Seperti hari hari biasanya, makan malam bersama itu diisi dengan obrolan keluarga. Hari itu sang anak membuak dialog kecilnya.

Anak  : Ayah, aku mau Tanya boleh..?

Ayah : Boleh, mau Tanya apa..?

Anak : Kenapa ayah selalu bilang terimakasih…?

Ayah : Itu wujud dari syukur nak…

Anak : Terimakasih, ke tukang parkir, ke tukang ojek, ke abang bakso, padahal ayah yang memberi uang ke mereka…?

Ayah : Ya ayah harus berterimakasihlah ke mereka, karena mereka udah bantu jagain motor ayah di parkiran, mengantar ayah pulang atau pergi, memberi ayah makan. Kalo nggak ada mereka ayah khan jadi repot. Meski ayah membayar semua kebaikan mereka, ayah harus berterimakasih karena mereka sudah membantu ayah…

Anak : Nah kalo memberi sedekah ke pengemis, kok terimakasih juga…?

Ayah : Lah iya dong, karena pengemis sudah member ayah kesempatan untuk bersedekah. Dari sedekah ayah mendapatkan pahala dan dari kumpulan pahala itu Insyaallah ayah mendapatkan kebahagiaan dan mungkin do’a baik dari mereka. Kita nggak pernah tahu dari mulut siapa do’a itu akan dikabulkan Allah.

Anak : Jadi, kita harus selalu berterimakasih untuksemua kebaikan ya yah…?

Ayah ; Tidak hanya semua kebaikan yang kita terima, perilaku buruk pada kitapun kadang kita harus berterimakasih. Karena dengan perilaku buruk orang ke kita terkadang berarti pelajaran untuk kita menjadi lebih baik. Berterimakasih untuk mereka yang berbaik dengan kita itu sudah biasa, kalo berterimakasih pada mereka yang berbuat buruk pada kita, itu baru luar biasa….

Anak : Makasih ya yah.. I Love You…..