Tim kita tetap menjalankan tugas. Dan setelah ini kita bersama-sama bekerja melangkah ke depan. Sejarah mencatat jasa Pak Jusuf besar sekali bagi bangsa dan negara. Mari teruskan amanah bagi kita berdua. Insya Allah ke depan ada jalan yang baik bagi kebersamaan kita. Negara masih membutuhkan Pak Jusuf. Apapun nanti peran Pak Jusuf, kami senang se­kali Pak Jusuf bersedia meneruskan darma baktinya bagi negara. Insyaallah kita bicarakan lagi nanti,” tutup SBY dalam percakapan telepon. ( rakyatmerdeka 10/07/09 )

Adalah sebuah pernyataan yang mengandung makna kebersamaan SBY JK akan tetap ada dan menemukan jalan terbaik untuk mereka berdua, mungkin secara pribadi mungkin pula secara kepartaian.

Apabila memperhatikan pada apa yang disampaikan Ruhut Sitompul dalam RMOL, ”SBY adalah seorang demokrat sejati yang akan mengajak semua anak bangsa profesional untuk masuk dalam kabinet, termasuk lawan politiknya”, ini akan mengandung arti dalam Kabinet SBY Boediono 2009 -2014 besar kemungkinan kader Golkar masih akan tetap dilibatkan.

Menilik pada sejarah kelahiran GOLKAR yang selalu menjadi partai pemerintah sejak didirikan 20 Oktober 1964 dan mengikuti pemilu 1971, maka GOLKAR memang dapat dipastikan tidak memiliki ”darah perlawanan” seperti yang dimiliki oleh PDIP, maka sangat pantas SBY melakukan komunikasi politik pertama kali dengan JK yang masih wapres sampai 20 oktober 2009, dan sekaligus ketua umum Golkar yang memiliki anggota legislatif terbanyak ke 2 setelah Demokrat pada pilleg april 2009 lalu.

SBY didampingi Boediono, di Puri Cikeas, Bogor, Kamis (9/7), mengajak kubu JK-Win untuk berdamai setelah kedua kubu saling menerang selama rangkaian pemilu presiden. SBY mengakui, di antara tim sukses JK-Win dan SBY-Boediono sempat saling menjaga jarak selama berkompetisi. Namun, tegas SBY, dalam pemilu ini mereka sesungguhnya hanya menjalankan tugas. “Tugas itu sudah selesai dan saya berharap bisa bersatu kembali dan saling bekerja sama untuk mengemban tugas masing-masing ke depan,” ujarnya. ( kompas.com 09/07/09 ) adalah indikasi lain yang pantas untuk dicermati.

SBY Boediono yang didukung oleh 56.07% anggota DPR RI terdiri dari Demokrat, PAN, PKS, PKB, dan PPP memang bis memposisikan kelima partai terebut sebagai partai pemerintah seperti yang pernah disampaikan oleh SBY bahwa “Koalisi nanti harus dibangun bukan atas dasar kesamaan ideologi partai. Tapi berdasarkan atas kesamaan platform, arah kebijaksanan, aturan main dan kontrak politik yang jelas,” pidato pembukaan Rapimnas II PD di Arena PRJ Kemayoran, Jakarta, Minggu (26/4), disampaikan pula “Aturan main ini perlu disusun secara gamblang dibuka kepada masyarakat dan sama-sama dijalankan oleh peserta koalisi,”

Apabila dalam kontrak politik ditetapkan partai politik peserta koalisi harus mampu menjaga stabilitas pemerintahan sampai 5 tahun kedepan, maka SBY Boediono dapat dengan tegas menempatkan Golkar, PDIP, Gerindra dan Hanura sebagai partai Non Pemerintah.

Untuk membangun Presidensiil yang efektif, SBY sepantasnyalah me”rayu” Golkar untuk bersama sama dalam pemerintahan 5 tahun kedepan. Namun sesuai harapan presidensiil benar benar efektif, maka dalam penyusunan kabinet ke depan penting diperhatikan beberapa hal berikut : (1) Tidak menempatkan”kawan baru” , menggeser keberadaan ”kawan berjuang” (2) Menempatkan Profesionalitas sebagai pertimbangan utama dan diutamakan dalam menempatkan kabinet meskipun mereka adalah kader partai peserta koalisi. (3) Mengikat kesepahaman aturan bahwa anggota kabinet tidak boleh merangkap menjadi pengurus partai.

Menarik untuk ditunggu perkembangan lebih lanjut… apakan SBY berkomunikasi dengan JK dalam kapasitas JK Pribadi, Wapres atau Ketua Umum GOLKAR…..

Menurut saya GOLKAR memang masih ”SEKSI & MENAWAN”, sangat naif bila harus ditinggalkan SBY.

Namun apabila ada keberanian SBY meninggalkan GOLKAR, maka sebenarnya SBY sedang memberikan pendidikan politik bagi bangsa Indonesia yaitu bahwa ’KOMITMEN KOALISI” adalah hal penting dipegang teguh dalam berdemokrasi, serta memberikan peluang pembelajaran bagi GOLKAR untuk belajar menjadi oposisi…

Pin It on Pinterest

Share This