Setidaknya telah mengemuka tiga nama calon Gubernur DKI yang diusung Partai yaitu Alex Nurdin (Gubernur Sumatera Selatan) oleh partai Golkar, Fauzi Bowo (Gubernur DKI) oleh Demokrat dan yang terakhir Joko Widodo (Walikota Solo). Ada calon independen Faizal Basri dan  Hendardji yang mungkin sedang berjuang dengan semangat baru yang lebih karena tidak menggunakan jalur partai politik.

Dalam “pertarungan” perebutan kekuasaan di Ibukota Negara, maka masyarakat kota benar benar sedang diuji kemampuan rasionalitasnya.

Ada kekuatan sosok Alex Nurdin yang mengkliam sukses menyelenggarakan agenda olahraga internasional dengan sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi. Seperti diketahui bersama bahwa Indonesa mampu emnjadi penyelenggara yang dinilai sukses dan meriah oleh para peserta, serta sukses prestas karena Indonesia menjadi Juara Umum.

Ada Fauzi Bowo yang mungkin beberapa pihak menilai tidak ada prestasi yang luar biasa tetapi dia adalah anak Betawi yang dinilai sebaga presentatif “pemilik” hak puta daerah. Terbukti dengan dukungan ormas dan elemen masyarakat jakarta banyak memberikan dukungan karena terbukti mampu menghudipkan budaya dan kampung betawi

Ada Joko Widodo yang terbukti mampu memimpin dan menata kota solo dengan gaya kepemimpinannya yang lembut tetapi keras dalam pendirian. Masih teringat bagaimana perseteruannya dengan Gubernur Bibit atas rencana pembangunan mall dengan merobohkan bangunan cagar budaya, dan yang terakhir adalah langkah beraninya menjadikan mobil “anak anak SMK” untuk dijadikan mobil dinas.

Ada dua calon independen yang mencoba memberikan perlawanan terhadap “kartel” partai politik dalam perebuatan kekuasaan pemerintahan.

Akankah rasonalitas pemilih kota Jakarta ditentukan oleh besarnya uang dan kekayaan ataukah besarnya karya yang telah dilakukan…..

Melihat kekuatan uang di tiga calon gubernur memiliki pundi pundi dukungannya, Alex dengan kekuatan pribadi dan ketua umum Golkar, Fauzi Bowo dengan kekuatan pribadi dan kekuatan pengusaha dibelakang Demokrat, Joko Widodo mungkin sekali lag mungkin dengan keteratasannya tetapi ada Prabowo dibelakangnya jelas bukan pundi kecil yang tdak bisa diperhitungkan…..

Secara kedaerahan Jakarta sudah menjadi milik Indonesia bukan lagi milik Betawi, akankah “anak betawi” akan terus melanjutkan atau tergusur oleh kaum urban yang sukses, dari palembang dan dari solo ?

Akhirnya kita menunggu rasionalitas pemilih kota Jakarta, atau malah tidak memilih menjadi pilihan yang rasional… ?

Pin It on Pinterest

Share This