Beberapa kesempatan sering kita mendengar dalam pergaulan politik dikenal hukum  ”Tidak ada kawan sejati, yang ada kepentingan sejati”. Inilah yang terkadang menjadi ganjalan dalam berteman dengan para politisi.

Ketika dianggap tidak ada kepentingan mereka, maka merekapun lebih berpikir untuk tidak menjadi teman meski mereka memiliki keterikatan ideologis sekalipun. Perikatan kepentingan lebih berarti daripada Ideologis, sehingga persekutuan atau koalisi tanpa ikatan ideologispun dapat terjadi.

Tidak ada pertemanan yang tulus dalam berpolitik mungkin dinilai sebagai sebuah kebenaran dalam republik ini.Menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, kata kebaikan bersama adalah kata yang mengandung makna etika dan moralitas.

Politik dengan mendasar pada etika dan moral sepertinya belum dapat berlaku di Indonesia, dilihat dari perilaku konspirasi yang terjadi dalam antar anggota dewan lintas partai dalam rangka transaksi kebijakan dan kolutf pada pengusaha yang menghasilkan tindak korupsi.

”Untuk berteman dan dihargai oleh teman politisi maka anda harus datang dengan dua hal yaitu massa dan uang. Kalo anda datang tdak dalam kerangka membawa dua hal itu maka jangan berharap untuk bisa berteman baik dengan politisi” kata seorang teman kepada saya pada suatu waktu.

Diawal saya tidak percaya, tetapi kini setelah beberapa lama saya bergaul dengan para ”politisi” ternyata pernyataan itu ada benarnya meskipun tidak semuanya benar.

Dalam hal pemberian advokasi dan penguatan masyarakat atau kelompok masyarakat yang terkadang harus berhubungan dengan para politisi, maka kita harus berani memberikan sesuatu dengan ketulusan atau bahasa indahnya adalah bertindak atas nama Tuhan dan oleh karenanya biarkan Tuhan yang memberikan harga dan penilaian atas kerja advokasi kita.

Janji politisi sepenuhnya adalah janji politik yang dalam salah satu teorinya politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional, yang artinya bisa memenuhi janji atas nama kontitusi atau tidak mereka penuhi atas nama non konstitusi.

Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam pergaulan politik, kita yang mempolitisir mereka atau mereka yang mempolitisir kita, oleh karenannya maka politik transaksional adalah sebuah keniscayaan untuk mereka yang siap masuk dalam wilayah politik sebagai pemain politik / politikus.

Dan untuk mereka yang tidak tertarik masuk menjadi pemain politik maka kerja profesional politik adalah pilihan lainnya. Profesional politik kini sudah pula marak dengan pola konsultan atau advisor politik.

Dan karena hidup adalah pilihan maka selayaknya kita mencoba mengambil pilihan sikap, menjadi pemain politik atau pekerja profesional politk…..?

Pin It on Pinterest

Share This