Ketika sudah resmi menjadi peserta konvensi Capres Partai Demokrat, Gita Irawan Wirjawan yang juga Menteri Perdagangan sungguh tidak layak untuk tampil dalam Iklan Layanan Masyarakat “Penggunaan Produk dalam Negeri” dari Departemen Perdagangan RI.

Beberapa gambar terlihat di Bus Damri Bandara, Billboard dan juga Sarung tempat duduk gerbong eksekutif kereta milik PT KAI, dan kita bisa bayangkan berapa besar kemafaatan atau keuntungan Gita Wirjawan dalam hal ini ketika foto dirinya ada dalam Iklan Layanan Masyarakat tersebut.

Menilik pada berita RMOL, “Dengan adanya konvensi, persaingan akan semakin ketat dan kami melakukan penelitian untuk memetakan kandidat-kandidat terkuat untuk pilpres 2014,” ujar Gusrizal Algamar selaku Business Director Purengage, dalam konferensi pers di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/9).

Gita Wirjawan (salah satu peserta konvensi) juga menjadi perhatian tersendiri. Gita memiliki indeks percakapan di twitter, yang paling tinggi mencapai 1,34 yang juga disusul oleh Dahlan Iskan 1,24, dan Jokowi 1,03.

“Secara favourabilitas dan popularitas, Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan saat ini boleh berada di bawah Jokowi. Namun, kita akan pantau dalam beberapa bulan ke depan. Mungkin saja Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan dapat menjadi kandidat terkuat,” imbuh Gusrizal.

Melihat pada temuan tersebut dan dikaitkan dengan promosi alamat akun social media online (twitter) secara offline di media iklan layanan Departemen Perdagangan, maka apa yang dilakukan Depdag di Iklan Layanan Masyarakat dengan mencantumkan akun twitter Pribadi Gita adalah bentuk dari kemanfaatan yang diperoleh Gita dalam rangka promosi offline alamat akun media socialnya.

 

Gita Tidak Korupsi……?

Benar dalam pengertian Korupsi Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyebutkan: “Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, …..”

Namun yang kemudian kita perlu lihat adalah salah satu unsur korupsi adalah menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan. Dan tindakan “menyalahgunakan kewenangan” bila ditinjau dari aspek pembuktian, dapat lebih mudah dibuktikan karena unsur “menguntungkan” tidak harus dalam dimensi apakah menjadi kaya atau bertambah kaya.

Dalam teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering disebut GONE Theory, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi meliputi :

    • Greeds(keserakahan) : berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang. Gita masih manusia, sehingga wajar punya keserakahan mendapatkan kedudukan lebih tinggi yaitu sebagai Presiden, sementara sekarang masih hanya Pembantu Presiden.
    • Opportunities(kesempatan) : berkaitan dengankeadaan organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan. Gita punya kesempatan untuk korupsi atau bertindak curang, karena hampir di semua Institusi Negara, para pegawainya menempatkan pimpinanan sebagai pihak yang harus dilayani kebutuhannya. Kebutuhan meningkatkan popularitas juga dipahami oleh anak buah Gita sehingga Iklan layanan masyarakat yang dibuat tidak menggunakan “Bintang Iklan” lain selain pimpinannya. Bahkan di media tersebut juga dicantumkan alamat akun social media pribadi Gita ( Twitter dan Facebook).
    • Needs(kebutuhan) : berkaitan dengan faktor-faktor yang dibutuhkan oleh individu-individu untuk menunjang hidupnya yang wajar. Gita punya kebutuhan mengejar ketertinggalan popularitas, adalah sebuah kewajaran untuk menjadi pemenang konvensi , oleh karenanya Gita butuh layanan publisitas dan promosi. Dengan Iklan layanan masyarakat Depdag itu maka Gita nggak perlu mengerluarkan anggaran khusus untuk sosialiasi “pencapresan”.
    • Exposures(pengungkapan) : berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan melakukan kecurangan. Perlu ada kesadaran untuk masyarakat mengungkapkan, dan Gita mendapatkan perlindungan karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun, penuh toleransi serta pemaklum yang luar biasa. Jadi masyarakat mungkin tidak menganggap tampilnya Gita di iklan layanan masyarakat yang menggunakan anggaran Negara itu adlah bentu penyalahgunaan jabatan.

Jadi apakah Gita mendapatkan Keuntungan atau hanya kemanfaatan dari jabatannya, dan apakah Gita korupsi atau tidak, setiap orang pasti memiliki jawaban dan argumennya masing masing.

Bagi saya hanya ada catatan, Gita perlu lebih memiliki etika dalam berpolitik. Dalam hal Gita sudah menjadi salah satu peserta konvensi, maka Gita sudah masuk wilayah politik yang mungkin orang ada yang beranggapan dalam berpolitik “boleh halalkan segala cara”, tapi saya berpendapat lain. Kerja POLITIK butuh ETIKA, maka dalam kesempatan ini saya sekedar menanya dan dan menyoal etika seorang Gita Irawan Wirjawan…..

Pin It on Pinterest

Share This