Berawal dari obrolan dengan kawan kawan lama di sebuah rumah panggung seorang teman hebat di semarang, tercetuslah sebuah gagasan blogdesa. Sekitar pertengahan tahun 2008, gagasan blogdesa yaitu sebuah sarana informasi sebuah desa di dunia maya dalam bentuk blog atau website, terlahir karena cerita kehebatan seorang pejaga warnet di sebuah kota kecamatan di jawa tangah yang berhasil mendapatkan bantuan untuk peningkatan gizi anak anak balita.

Diceritakan oleh kawan, bahwa di tetangga desanya mendapatkan bantuan dari sebuah yayasan di Jakarta untuk peningkatan gizi balita, karena yayasan tersebut membaca artikel  buruknya gizi anak anak di desanya.  Berlanjut dengan koresponden dan akhirnya bantuan itu datang ke desanya untuk seluruh balita selama satu tahun penuh.

Sisi cerita yang lain adalah, penjaga warnet ini menjadi media antara untuk melakukan updating informasi keluarga para tenaga kerja luar negeri. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penjaga warnet menjadi “mata” bagi pekerja di luar negri atas penggunaan uang yang dikirim ke kampong, apakah benar digunakan sesuai janji kebutuhan saat keluarga dikampung meminta kiriman uang.

Berangkat dari obrolan tersebut ditambah dengan minat tentang media online yang saya sedang kembangkan, maka lahirlah sebuah pemikiran blogdesa. Mencoba menduplikasi gagasan blogdetik dan kompasiana, tetapi ini adalah media dengan mendasar pada informasi sebuah desa.

Perjalanan panjang untuk mematangkan gagasan dan juga mencoba mencari dukungan dari berbagai pihak maka konsep blogdesa semakin berkembang. Dengan dukungan seorang perangkat desa yang menguasai pembuatan web, maka lahirlah model blogdesa yang dijadikan prototipe aplikasi konsep. Model tersebut adalah www.sumberdalem.com yang merupakan media informasi desa suberdalem kecamatan kertek kabupaten wonosobo Jawa Tengah.

Konsep blogdesa pernah kita ajukan kepada seuah lembaga donor cipta media,sayang tidak mendapatkan dukungan alias tidak terpilih sebagi program penerima hibah.

Dikomunikakan pada BUMN telekomunikasi, perusahaan provider bahan kementerian juga pernah pula dilakukan, saang belum memdapat tanggapan.

Akhirnya dalam sebuah peristiwa menyaksikan acara TV yag mengulas tentang pengalangan dana oleh media yang dilakukan oleh Mia Lesmana dalam pembuatan film ”Atambua 39° Celsius”, maka terpikirlah untuk mencoba menggunakan www.wujudkan.com untuk mengalang dana.

Dengan harapan mampu memfasilitasi blog gratis bagi desa desa di Indonesia, dalam rangka mengantisipasi dan memanfaatkan peluang program pemerintah yang akan membangun infrastruktur Seluruh Desa bisa diakses Internet di tahun 2014, maka blogdesa menjadi sesuatu yang terus saya perjuangkan.

Kini setiap orang bisa punya kesempatan untuk mendukung lahirnya blogdesa dengan berkunjung ke http://wujudkan.com/projects/detail/60/membangun-blogdesa-situs-desa-indonesia-menyapa-dunia dan menjadi salah satu donasi untuk mewujudkannya….

Pada saatnya saya hanya bisa berharap ini terwujud, karena saya yakin banyak para dermawan dan institusi donor yang memiliki kepedulian pada desa.

Bergerak mulai jadi pendamping para demntran dari desa, sayapun ingin mencoba keberuntungan untuk ”memprovokasi” kepedulian kaum pemikir dan pemilik kebijakan untuk ikut memajukan desa dengan membuka keterbatasan informasi karena karena tidak memiliki website / weblog.

Hal lain yang juga sedang dilakukan adalah mencoba meminta kepada Pengelola Domain Indonesia untuk membuka second domain khusus desa, karena pada sesuai Permen Kominfo No. 28/PER/M.KOMINFO/9/2006, jelas bahwa desa tidak dapat menggunakan domain  go [dot] id, meskipun keberadaanya adalah bentuk pemerintahan.