Dalam rangka melakukan penghematan subsidi BBM, pemerintah mengeluarkan Program pembatasan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi bagi kendaraan dinas pemerintah pusat, pemda, BUMN dan BUMD di Jawa-Bali.

Membayangkan obrolan beberapa orang pinggiran yang terkena dampak kebijakan yang mungkin ada hal  diluar perkiraan.

Tersebutlah di sebuah daerah imajinasi, terjadilah obrolan warung kopi pasar desa lereng gunung di pulau jawa.

Untuk memudahkan cerita, tersebutlah sebuah kebetulan yang luar biasa, pertemuan tukang pos, sopir ambulan, kepala desa dan petugas PLN di warung kopi.

Berujarlah simbok pemilik warung kopi kepada mereka, “wah sekarang motor dan mobil sampeyan sampeyan udah pake pertamax ya” tanya simbok itu tidak jelas kepada siapa.

“Orang Jakarta itu nggak pake otak mbok, bikin aturan seenaknya tanpa mikir kerepotan orang macam kita” kata pak kades langsung menyahut.

“iya, apa mereka nggak mikir kalo kita mau tertib ngikuti aturan, banyak masyarakat yang direpotkan” sahut sopir ambulan.

“Mungkin mereka pikir seluruh jawa itu sudah kayak Jakarta, yang gampang cari pertamax, yang pompa bensin ada di tiap 5 kilometer. Memang dagelan benar yang bikin aturan ini” sahut pak pos yang dari tadi menikmati kopi bikin simbok warung.

“Mereka sih enak aja bikin aturan, apalagi mereka bisa pake plat nomor hitam di mobilnya. Kalo kayak kita ini lah cuma bisa pusing dan merasa salah kalo nggak pake pertamax” kata petugas PLN yang juga mengendarai mobil dinas operasional kantor.

Simbok penjual kopi jadi ikutan bingung. “lah kok malah pada ngrutu, mestinya gimana kalo menurut sampeyan pak kades” tanyanya.

“Mestinya yang dapat subsidi itu ya yang pake plat merah dan plat kuning. Jadi jelas peruntukannya, subsidi itu untuk mereka yang menggunakan kendaraan untuk orang banyak dan untuk pelayanan masyarakat” kata pak kades.

“Betul itu, kaya saya bawa ambulan, kita melayani masyarakat tapi harus pake pertamax. Sudah nyarinya harus jauh karna nggak semua pom bensin ada pertamaxnya, dan kalo pas pelayanan di desa desa pelosok kayak gini, kalo bensin habis, nggak ada yang ngecer pertamax, terus gimana ?, apa ya harus membatasi pelayanan ?”, tanya sopir ambulan tanpa perlu jawaban.

“Nggak tahu lah mbok” kata pak pos yang langsung disahut sopir petugas PLN “Negara kok diatur sak enake sendiri”

“iya bener, aku ya kadang bingung sama pembesar di Jakarta itu. Yang DPR nya pinter ngomong tapi nggak jelas maunya. Yang pemerintah seneng bikin aturan tapi nggak mudah dilaksanakan. Kayaknya sekarang Indonesia jadi Negara dagelan. Bikin aturan yang lucu lucu dan nggak bermutu, he he he he… “ tawa renyah simbok dengan giginya yang mulai pada ompong.

Itulah sepenggal cerita imajiner yang mungkin juga benar benar terjadi di salah satu tempat di jawa yang terkena dampak kebijakan penggunaan BBM non subsidi.

Salam imajinasi yang mungkin tidak berarti tapi bias saja benar terjadi…….

Pin It on Pinterest

Share This