Jakarta sebagai Ibukota Negara, lima tahun lalu telah berhasil memilih Gubernurnya dari sosok sipil bukan lagi militer. Lima tahun lalu ada kekuatan besar Fauzi Bowo yang mampu menjadikan magnet simbol perang kekuatan antara Nasionalis dan Islam, yaitu dengan face to face antara calon PKS, Adang Dorodjatun melawan Koalisi Besar partai partai mengusung Fauzi Bowo.

Kini issu ideologis itu sepertinya sudah tidak bergema lagi, yang terjadi adalah issu prestasi, kualitas dan kapasitas kepemimpinan yang kesannya mungkin klise, oleh karenanya kita mencoba membedah dari sisi lain. Sisi lain yang dimaksud adalah adanya aroma pertarungan cagub DKI 2012 ini lebih berbau kepentingan “dalang” dari para wayang yang bernama calon Gubernur DKI 2012 – 2017. Perang strategi pemenangan dengan brand khusus dapat kita cermati bersama.

Enam pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang akan berlaga dalam pilgub DKI adalah (1) Fauzi Bowo (Foke) dan Nahrowi Ramli (Nara), (2) Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tedjaya Purnama (Ahok), (3) Alex Noerdin (Alex) dan Nono Sampono (Nono), (4) Hidayat Nurwahid dengan pasangannya Prof. J. Rachbini, (5) Faisal Basri dan Biem Benyamin  dan (6) Hendardji Supandji dan Riza Patria. Empat pasangan pertama adalah besutan parta politik sedang dua berikutnya adalah inisiasi independen.

Pada kesempatan ini tanpa bermaksud mengecilkan arti cagub Hendardji, sepertinya saya tidak cukup materi untuk membedah sosok ini, sedang  Faisal Basri dan Hidayat Nurwahid lebih pas sebagai calon Presiden bukan calon Gubernur, sehingga saya lebih suka menyebut salah tempat bertanding.

FOKE NARA, milik SBY

Kenapa saya  sebut mlik SBY, karena dalam prosesnya DPD Demokrat sendiri sebenarnya leboh berharap ketua DPD nya lah yang menjadi calon Gubenur yaitu Nara bukan hanya sebagai wakil Gubernur. Itupun lebih merupakan kecelakaan karena tidak ada lagi besuran partai diluar Demokrat yang siap menjadi wakil Foke. Dalam kesempatan ini terlihat adanya strategi pemenangan dengan jalur ”Partai Birokrasi”, karena Foke adalah incumbent sehingga potensi birokrasi sangat mungkin menjadi juru kampanye utamanya. Hal lain adalah gaya Demokrat yang sering menempatkan para kepala daerah menjadi ketua partainya karena minimnya kader yang dimiliki. Jadi kepentingan SBY yang memang sudah tidak mungkin lagi mencalonkan diri sebagai Presiden 2014 – 2019 adalah mencoba mengamankan kepentingan Demokrat dengan menjadikan lebih banyak Kepala Daerah yang diusung dari partainya. Jadi kemenangan Foke bisa diartikan sebagai kemenangan Demokrat, meski sebenarnya tu adalah kekuatan pribadi Foke, ini adalah duplikasi dari kemenangan Demokrat adalah kemenangan SBY pribadi bukan kemenangan kerja partai Demokrat.

JOKOWI AHOK, milik PRABOWO

Jokowi dan Ahok adalah pasangan yang dusung oleh PDI Perjuangan dan Gerindra. Kenapa saya sebut milik Prabowo, karena dalam proses sama sama kita tahu, ”kebingungan” menentukan pilihan calon gubernur DKI oleh PDI Perjuangan, langsung selesai dengan pertemuan Prabowo dan Megawati. Jokowi Ahok adalah usulan Prabowo yang dalam suasana kebatinan saat itu Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP, Taufiq Kiemas sempat melontarkan penilaian kelayakan Foke untuk terus didukung.

Pada momen ini terlihat kecerdasan strategi Prabowo ”mengarahkan” kawan perjuangannya. Dimintalah ”anak kandung berprestasi” dari PDI Perjuangan untuk memimpin Jakarta dan sekaligus mencoba mengambil hati pendukung Golkar dengan ”mencabut” Ahok dari akar politiknya. Prabowo mencoba menawarkan tokoh berprestasi tanpa memaksakan diri menempatkan kader Gerindra. Sisi menarik adalah potens kemenangan yang dimiliki berdasar pada harapan rasionalitas pemilih Jakarta, untuk memlih dan memberi kesempatan untuk dipimpin smart leader dengan track record yang sudah teruji.

ALEX NONO, milik ICAL

Sebagai pasangan calon yang pertama kali dideklarasikan dari partai politik, Alex Nono ditawarkan Golkar dengan men Nol kan kader kadernya di DKI, bahkan sang besan yang juga Ketua DPD Golkar DKI Priya Ramadhani pun tidak diambil oleh Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie yang dipanggil akrab Ical.

Perpaduan antara sipil militer mungkin sedang ditawarkan Golkar dalam rangka membenahi Jakarta yang butuh kecerdasan dan keluwesan seorang sipil dan ketegasan seorang militer.

Dengan keyakinan penuh, Alex Nono siap mundur bila dalam waktu 3 tahun tdak bisa menyelesaikan masalah Jakarta mereka akan mundur.

Siapa Menang, SBY, Ical atau Prabowo…?

Kita pada akhirnya akan melihat siapakah yang benar benar memahami dan menguasai “miatur Indonesia”. Adu strategi memenangkan Jakarta bisa jadi menjadi modal awal untuk menunjukkan kehebatan “politik” para “pemilik” tiket presiden 2014. Khusus untuk SBY, karena tidak lagi dapat mencalonkan diri, maka ketika kehebatannya memenangkan Jakarta akan menjadi penguatan untuk semakin patuh dan tergantungnya Demokrat pada “pemlik”nya.

Ataukah mereka semua akan kalah oleh “capres” yang downgrade mencalonkan diri sebagai Gubernur…. kita tunggu tanggal mannya….