Saat SBY menegaskan tidak kenal dengan Bunda Putri seperti disebut dalam persidangan oleh Luthfi Hasan, saya melihat dan mendengar pernyataan ini rasanya sedih, geli, ragu ragu dan tidak paham, kenapa sebegitunya seorang Kepala Negara besar harus mengungkapkan hal ini.

Bahkan SBY juga membantah jika Bunda Putri disebut tahu soal reshuffle kabinet. “Saya bukan pejabat kecengan, mau reshuffle ngomong sama orang yang tidak jelas,” tegas SBY dalam jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/10/2013),

Kenapa sedih karena kecengan sendiri saya nggak tahu maksudnya, yang  biasa terdengar adalah “kecengan”  bermakna pacar / selingkuhan, ini biasa dipakai oleh anak anak gaul dan orang tua gaul juga, dan dalam perteman kecil dulu kita mengenal kasihan dong jangan di “kecengin” yang artinya jangan diejek.. he he he

Kenapa saya geli, karena kalo dilihat kata yang dekat dengan kecengan adalah  “ngeceng” atau nampang, jadi kalo disampaikan “saya bukan pejabat kecengan” bisa diartikan sebagai “saya bukan pejabat yang hanya suka mejeng / nampang / pencitraan”…   he he he he

Kenapa saya ragu, karena mungkin yang dimaksudkan “kecengan” yang disampaikan SBY adalah “kacangan”. Kalo kacangan yang dimaksud maka saya jadi ingat dengan istilah pedagang hewan yang biasa menyebut “kambing kacangan” yaitu kambing lokal yang badannya nggak besar. Dan juga pedagang mobil yang sering menyebut jenis produk banyak peminat karena harga terjangkau adalah “mobil kacangan”… he he he

Atau bisa juga maksud “kecengan” adalah “ketengan” atau “eceran’. Kalo di pasar tradisonal kata “ketengan” dimaknai eceran, jadi kalo beli rokok di warung sering pembeli bertanya boleh beli “ketengan” yang artinya hanya beli rokok sebatang dua batang, bukan sebungkus penuh … he he he

Dalam dalam sedih, geli, ragu ragu, saya tidak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi.  Kemarahan atau pernyataan keras bagi politisi adalah bukti sedang melakukan perlawanan atau pertahanan. Ingat Nazaruddin saat menyampaikan “kalo ngomong pake bukti dong”, ingat kata Anas menyampaikan “Kalau ada satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas,”, ingat akil yang menyampaikan  “Ide saya, dibanding dihukum mati, lebih baik dikombinasi pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor saja cukup”,  ingat pernyataan Mahfud MD yang menyampaikan “Saya potong tangan dan potong leher. Saya datang kesini, kalau benar saya siap dihukum,”… he he he he

Meminjam istilah bang Sutan Bhatoegana, ini ngeri ngeri sedap elite kita ini….

Kalo Nazar, Akil  dan Anas yang “lantang menantang”, dan akhirnya kita lihat apa yang terjadi sekarang. Maka Mahfud MD dan dan SBY begitu yakin dan meyakinkan akan bernasib seperti apa ?. Dan ketika  ada tulisan seorang Kompasianer yang menggunakan nama panggung Intel Imoet mengungkap Bunda Putri adalah Sylvia Soleha, istri Kombes Pol (Purn) Purnomo D Rahardjo yang kepala RumahTangga Cikeas, maka ngeri ngeri juga nih….. hik hik hik

Dan akhirnya akan semakin sedap kalo tulisan kompasianer Intel Imoet  yang berjudul “Bunda Putri (Sylvia Soleha) Aktor Utama Hambalang yang Diselamatkan @kpk_ri”, adalah sebuah kebenaran….

SBY yang 2.000% tidak mengenal Bunda Putri, ternyata kenal, selayaknya tidak kenal Artalyta Suryani, ternyata ada foto perkawinan anak Artalyta. Maka bersiaplah SBY jadi pejabat kecengan yang sebenarnya… Kecengan yang berarti, selingkuhan, ejekan, suka mejeng, murahan dan eceran….. Ngeri Ngeri sedap kalo istilahnya Bung Sutan… akhirnya saya harus bilang … bungkus….  Ha ha ha ha ha