Dalam setiap kejadian atau peristiwa yang kemudian mengakibatkan masalah dalam kesehatan, dokter selalu melakukan dua langkah yaitu Diagnosa dan Tindakan. Dan dalam tindakan dokter memiliki pilihan dan tahapan Menyelamatkan, Menyembuhkan, Memulihkan dana Menjaga Kesehatan.

Yang menjadi menarik adalah ketika proses ini coba kita terapkan pada masyarakat yang ”sakit” karena adanya kenaikan BBM. Memang benar kenaikan BBM akan mempengaruhi seluruh sendi sendi perekonomian masyarakat dan akan ada dampak yang berbeda pada tiap kelompok masyarakat. Ada yang hanya sedikit terganggu, ada yang banyak terganggu dan ada yang sangat terganggu kondisi kesejateraannya karena kenaikan harga BBM berakibat pada kebaikan harga kebutuhan pokok.

Dan oleh karenanya dalam konsep kerja dokter, maka langkah yang dilakukan adalah mendiagnosa dampak kemudian melakukan tndakan. Dalam pilihan tindakan maka ada langkah yang harus dilakukan penyelamatan pada kelompok masyarakat yang rentan dan sangat terbebani atas dampak kenaikan harga BBM. Untuk tindakan penyelamatan ini, maka Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) adalah sebuah pilihannya.

Penolakan pemberian BLSM yang dilakukan dengan dasar pikir membangun mental pengemis, sepertinya ada bagian lain yang perlu kita diskusikan lebih dahulu  kata ”pengemis”.

Pengemis  Kamus Besar Bahasa Indonesia tertera tema “emis”. Jadi, “pengemis” adalah orang yang minta-minta. Dari kata orang yang minta minta, maka ada kata kerja minta, dan ketika sesorang yang tidak meminta tetapi diberi tidaklah masuk dalam kategori pengemis. Ibarat kata tidak semua orang miskin menjadi pengemis karena dia tidak meminta minta, tetapi orang kaya bisa menjadi pengemis karena meminta minta.

Dari hal tersebut jelas alasan bahwa dengan BLSM atau bantuan langsung tunai (BLT) sebagai pembangunan mental meminta minta adalah kurang tepat.

Kembali pada tindakan seorang dokter maka penyelamatan adalah bagian yang harus dipahami sebagai langkah yang harus dilakukan untuk menyelamatkan pasien dari kematian. Ini pun berlaku bagi program BLT, dimana diberikan hanya untuk kelompok masyarakat tertentu yang kemudian diberikan tidak secara terus menerus. Jadi pembagian BLT inipun tidak kemudian mengakibatkan orang menjadi malas atau manja.

Mungkin yang menjadi masalah sebenarnya bukan BLT nya tetapi ketepatan sasaran yang kadang tidak akurat dan mentalitas yang sudah terbangun pada kelompok masyarakat tertentu yang iri terhadap keberuntungan orang lain dan juga mentalitas pengemis yang suka meminta minta meskipun dia tidak mskin.

Wacana BLT diganti program padat karya, jadi yang bekerjalah yang mendapat upah. Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana dengan mereka yang memang renta dan tidak mampu ikut bekerja ? Kalau toh mereka ditolerir dengan cukup datang saja tidak perlu bekerja tetapi mendapatkan upah, apakah ada kerelaan dari mereka yang bekerja adalah pertanyaan berikutnya.

BLT hadir atas nama kompensasi kenaikan harga BBM atau penguran subsidi pemeirntah atas penggunaan BBM oleh masyarakat. Dan ketika pengurangan subsidi dilakukan dan pemlik kendaraan bermotor menolak , dan si miskin menerima BLT tanpa pernah merka meminta, maka menjadi pertanyaan adalah siapa sebenarnya pengemis itu ?. Pemilik kendaraan bermotor yang menolak penguran subsidi atau si miskin yang tidak pernah minta BLT…?

Sepakat sebenarnya BLT tidak perlu dilakukan bila kita telah mampu membangun kepedulian tetangga dengan baik seperti halnya dalam konsep Islam, orang yang paling berhak pertama menerima zakat adalah. 40 rumah di sekeliling kita. Dan sesuai hadist riwayat Al-Hakim & Al-Baihaqi menyebutkan ”Bukan seorang Mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangga disebelahnya kelaparan (sedang dia mengetahui)”.

Tetapi ketika ternyata masih ada anak anak penderita gizi buruk dan bahkan orang mati kelaparan, apakah juga pantas untuk kita menolak bantuan yang seharusnya diterima oleh mereka yang berhak…?

Pin It on Pinterest

Share This