Bapakku

Soewardi Gatot Suryoputro adalah guru, sahabat dan idolaku….

bapakku

Bapak mendidikku sangat keras, bahkan pukulanpun pernah aku dapatkan.Bapak melakukan itu atas prinsipnya, bahwa  anak sampai usia 10 tahun harus merasakan hukuman langsung atas kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan tidak cukup dinasehati atau dimarahi, karena logika anak kurang dari 10 tahun masih rendah.

Pada saat umur saya 10 – 12 tahun, bapak hanya cukup memarahi atau menasehati tanpa diberi kesempatan menjawab atau menjelaskan.  Masa SMP perlakukan bapak berbeda, beliau menasehati dan memberi kesempatan untuk menjelaskan, dan masa SMA sudah tidak ada lagi beliau marah, yang ada ialah bertanya dan meminta jawaban jujur, setelah itu baru ada nasehat.

“Perhiasan seorang laki laki itu kejujuran dan tanggungjawab” demikian kata bapak ketika meminta untuk aku harus menjelaskan sesuatu yang kulakukan yang  membuat bapak tidak  berkenan. Nasehat yang diberikan bukan merupakan keharusan untuk dilakukan, tetapi lebih memberikan pilihan dan menjelaskan semua resikonya. Jadi sejak SMA yang ada adalah aku selalu hanya diberi pilihan dan atas pilihan yang diambil adalah hakku dengan semua tanggungjawab yang menyertainya.

Setiap anak punya tanggungjwab menjaga  nama baik orang tua dan keluarga, demikian suatu waktu bapak pernah memberikan nasehat. Pada setiap apa yang kamu lakukan kamu harus ingat “ngoleko jeneng, yen wis duwe jeneng, jenange arep melu dewe” makna yang terkandung dalam  petuah itu adalah dalam bekerja kita harus berusaha memiliki nama  atau “brand” yang baik, dengan nama baik maka hasil / rejeki akan datang dengan sendirinya.

Hal menarik lain adalah cara beliau memberikan pengertian bahwa liburan sekolah harus digunakan untuk benar benar berlibur dan mencari pengalaman baru. Kalo liburan tidak pergi dari rumah ya bukan libur itu namanya, demikian bapak pernah berucap.  Pelajaran kemandirian dan suka melakukan hal yang baru adalah hal yang dapat saya petik dari cara berlibur ala bapakku.

Sungguh aku  menjadi sangat bangga dengan cara bapak saya, ternyata beliau ingin anaknya menjadi pemimpin bukan sekedar pelaksana, kesatria bukan punggawa.

Seorang pemimpin atau kesatria harus tahu sedikit dari banyak  hal, sedang seorang pelaksana atau punggawa harus tahu banyak dari sedikit hal.

 

Selamat Jalan Bapakku….

Mendengar engkau dipanggil menghadap Sang Kuasa,
Anakmu hanya bisa diam, berdiri dan menahan air mata
Dari hati berbisik dan mulut lirih menggumankan do’a
Bahagialah engkau di alam sana

Otot dilengan tuamu bercerita tentang caramu bekerja
Garis diwajahmu adalah lapis kerasnya kau berpikir untuk keluarga
Tatap matamu adalah keteduhan bagi kami semua
Sungging senyummu tetap tegas meski kau telah tutup usia

Telah kau besarkan aku dari keringatmu yang suci
Telah kau beri aku hati yang selalu peduli
Telah kau ajarkan aku bagaimana menyayangi
Katamu, bentuk sayang itu kadang harus menyakiti

Satu waktu engkau pernah berucap
Perhiasan laki laki itu hanya kejujuran dan tanggung jawab
Bukan emas, permata, mutiara atau intan yang berkilap
Sungguh aku bangga pada ajarmu tentang laki laki beradab

‎Pesanmu padaku,  jalani hidup dengan bersahaja
Hidup tak perlu berfoya foya, jalani dengan sederhana
Pikir dan selesaikan masalah dengan cara sederhana
Tapi jangan pernah kau lakukan hal yang sederhana

Suwardi Gatot Suryoputro, Bapakku
Aku bangga telah menjadi anakmu
Aku ingin menjadi sepertimu
Dan aku akan menjadi kebangganmu

Datang 27 Agustus 1923, menghadap Illahi  18 Oktober 2010

Selamat jalan bapakku……
Kuyakin Syurga menjadi tempat istirahat abadimu

 

 

 

 

Pin It on Pinterest

Share This