Menarik membaca pernyataan Presenter Najwa Shihab yang terkejut nama dan ‘testimoni’ nya tiba-tiba muncul dalam dalam website resmi Jokowi-Basuki (JB). Putri kandung dari cendekiawan muslim, Quraish Shihab, itu pun berencana menggugat pihak JB dan meminta agar nama dan ‘testimoni’-nya tersebut dicabut dari website JB.

Juga Ketua KPK Abraham Samad yang mengaku tidak tahu soal namanya dimasukkan ke dalam website itu. Dia hanya menegaskan bahwa seorang Ketua KPK tidak boleh masuk ke wilayah politik.

Yang lebih menarik adalah jawaban juru bicara JB, , M Taufik “Boleh dong, kami mengumpulkan dari berbagai koran. Jadi tidak perlu minta izin (kepada tokoh-tokoh itu), karena sudah jadi konsumsi publik,” yang dilansir detik.com

Secara langkah penguatan opini, yang dilakukan oleh JB adalahlangkah cerdas. Dengan nama Ketua KPK Abraham Samad dan Najwa Shihab, testimoni tokoh lain yang dimuat dalam website JB antara lain, Direktur Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah, ahli psikologi politik UI Prof Hamdi Muluk, dan personel band Slank. Jelas sebuah terobosan menarik untuk mereka yang semula apolitik ternyata tertarik mendukung JB.

Harapan yang ingin diraih adalah adalah suara golput yang terjadi tahun 2007 sekitar 40%, jelas ini adalah kecerdasan tersendiri dari JB.

Merujuk pada kata bijak Salman Al – Farisi, “Ilmu Tanpa Agama Menghilangkan Kehormatan”, maka apa yang dilakukan oleh JB adalah langkah fatal dari sebuah tindakan politik.

Dalam hal mengumpulkan pernyataan yang sudah dikonsumsi public, maka ada “kebodohan” jurnalistik yang dilakukan JB yaitu tidak menyebut dari media mana sumber berita dan kapan dipublish oleh sumber medianya.

Dimanakah semangat label baju….. 100% Bersih …. 100% Transparan… 100% profesional….? Label hanya sekdar labelkah… atau harus menjadi semnagat bagi penggagas dan pemakainya…?

Saat tulisan ini dibuat, situs resmi JB sudah “menurunkan” testimony Ketua KPK dan Reporter Metro TV tersebut. Apakah bisa sebuah peristiwa “pencurian” dianggap batal ketika “barang curian” nya dikembalikan….? Dan menjadi sebuah pertanyaan besar…? Apa yang bisa diharapkan kalo belum jadi gubernur saja para penjuangnya sudah terilhat tidak memiliki etika….?

Pin It on Pinterest

Share This