Pagi pagi dapat BMM penggalangan dukungan untuk JOKOWI tentang kebijakan Mobil Murah. Beginilah isinya :

“Kenapa Jokowi menolak Kebijakan Pemerintah terkait Mobil murah ?

    • Ingat, Jakarta butuh Transportasi massal yg murah bukan mobil murah.
    • Mobil murah hanya akan menambah pengguna mobil pribadi dan semakin memacetkan Jakarta.
    • Mobil murah akan membuat pemborosan Bahan Bakar Minyak.
    • Mobil murah kental dgn aroma konsprirasi bisnis antara Industri Otomotif dg Kekuasaan yang dibungkus dengan peraturan atas nama Rakyat
    • Mobil murah adalah rekasaya busuk jebakan politik untuk memperparah kemacetan Jakarta agar Rakyat menuduh Jokowi gagal benahi kemacetan!

Jangan biarkan Jokowi sendirian, dukung penolakannya terhadap bisnis mobil murah beraroma konspirasi politik busuk! Cantumkan nama dan pin bb anda sebagai bentuk dukungan dan sebarkan BC ini jangan berhenti!”

Antara senang dan sedih, antara mendukung atau tidak mendukung adalah bagian yang lumayan membingungkan.

JOKOWI & SBY sama sama mengajarkan Konsumtif.

Dalam pandangan Mobil Dinas JOKOWI, Mobil MURAH SBY sama sama nggak ada pro rakyatnya, hanya mengajarkan konsumtif masyarakat (baca : Indonesia Bangsa Yang Konsumtif Murahan)

Jadi nggak ada yang hebat dengan penolakan MOBIL MURAH, karena sebenarnya MOBIL MURAH jugalah yang sempat dibawa JOKOWI dengan ESMEKA yang orang berpikir Sekolah Menengah Kejuruan tetapi sebenarnya PT Solo Manufacture Kreasi.

Dalam sejarah mobil Nasional, konsepsi dasarnya adalah mobil yang terjangkau, dan bila kita bicara tentang pro rakyat, maka konsepsinya adalh terjangkau untuk memenuhi kebutuhan rakyat banyak.

Dalam hal rakyat banyak masih berada dalam garis kemiskinan dan kita masih sepakat sebagai Negara agraris perdesaan, maka pilihan mobil nasional selayaknya adlah untuk keperluan usaha agraris dan perdesaan.

Mobil Nasional digagas sejak 1969, ketika Toyota melakukan survei mendalam untuk menyiapkan produk baru khusus untuk pasar Indonesia dengan kriteria ekonomis, performa, tangguh, dan serbaguna.

Nama Kijang ( Kuat Irit terJANGkau ), diputuskan para surveyor dari Jepang di Kota Tretes, Jawa Timur dan bertahan sampai sekarang.

KIJANG diperkenalkan pada tanggal 9 Juni 1975 dalam event Pekan Raya Jakarta 1975. Peluncuran mobil ini dihadiri oleh Mantan Presiden RI, Soeharto, dan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Mobil ini telah mempunyai total penjualan sampai 1 juta unit sejak peluncurannya pada tahun 1975. Mesin yang berkapasitas 1200 cc yang pada saat itu digunakan juga oleh Toyota Corolla pada zamannya merupakan teknologi baru di industri kendaraan buatan Indonesia. Kijang Generasi Pertama diluncurkan pada 9 Juni 1977, dan produk ini dulu sempat dikenal dengan julukan ‘Kijang Buaya’, ‘Kijang Kotak Sabun’, ‘Kijang Bagong’ , karena bentuknnya yang unik

GRANDONG Adalah Mobil Rakyat sebenarnya bukan sekedar PRO RAKYAT

Gagasan Mobil Nasional di era 70 an lebih memiliki konsep pro rakyat karena dikembangkan dengan gagasan BUV atau Basic Utility Vehicle yaitu kendaraan serba guna dengan perawatan yang mudah.

Pada saat itu Kijang bersama BUV lain Vauxhall Morina (mesin ex. Inggris), Datsun Sena (mesin ex. Jepang juga, yaitu kalau tidak salah ingat ex. Datsun 120Y sedan yang menjadi rival langsung Toyota Corolla), dan VW Mitra (mesin ex. pompa air dengan technical support Jerman).

GRANDONG lebih hebat lagi karena tidak perlu Merek / Industri dengan dukungan Pemerintah. GRANDONG adalah angkutan pedesaan hasil rakitan masyrakat local. Sekilas GRANDONG mobil yang dirakit dengan teknologi sederhana.

Sebagai sebuah BUV, GRANDONG didukung oleh mesin diesel yang umum dipakai sebagai penggerak perahu nelayan atau genset. Mesin diesel yang banyak dipakai adalah merk Dong Feng dengan berbagai kebutuhan kekuatan. Mesin yang banyak digunakan adalah merek Dongfeng ini langsung dihubungkan ke shaft lintang (drive shaft) menggunakan fanbelt untuk menggerakkan roda-roda

Pilihan varian GRANDONG juga disesuaikan dengan kebutuhan mulai dari untuk angkutan barang, pemotongan kayu, penggilingan padi dan lain sebagainya.

GRANDONG menjadi alat transportasi favorit di desa. Selain harganya murah, bahan bakar yang berupa solar ini irit. GRANDONG bisa ditemui dari hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan variannya masing masing dan diproduksi oleh produsen local selokal lokalnya.

Di Maluku buruknya infrastruktur penghubung Kabupaten Buru dan Buru Selatan, membuat masyarakat kreatif. Agar bisa menembus jalan super rusak dan berlumpur, mereka memodifikasi ”mobil biasa” menjadi kendaraan andal yang mereka sebut ”grandong”. GRANDONG disini berbasis jip Daihatsu Taft F-50 keluaran tahun 1985.

Sekali Lagi….. RAKYAT Lebih Hebat Daripada PEJABAT DAN POLITISI….. Urusan Mobil GRANDONG Lebih Hebat Daripada … ESEMKA JOKOWI atau MOBIL MURAH SBY….

Untuk JOKOWI, angkutan Massal benar, angkutan rakyat OJEK bisa dirapikan dengan aturan angkutan umum, peremajaan BAJAJ bisa dengan motor roda tiga PRODUKSI INDONESIA.

Biar saja kebijakan Mobil Murah Nasional, Bikin Perda tentang Kepemilikan Mobil Pribadi Harus dengan syarat memiliki Garasi, Larangan Parkir atau menjadikan jalan sebagai Garasi.

Pemerintahan Propinsi bisa membuat perda yang mengatur tentang kepemilikan mobil, AHOK aja berani bilang cabut pentil untuk parkir sembarangan… padahal belum ada perdanya.

Pin It on Pinterest

Share This